Cara membatasi siapa saja yang bisa membalas cuitan di twitter

Baru-baru ini, Twitter meresmikan opsi untuk menentukan siapa saja yang bisa membalas sebuah cuitan. Setelah diuji coba beberapa waktu dan developer berhasil mengumpulkan beberapa insight terkait fitur tersebut, Twitter akhirnya memutuskan untuk membuatnya bisa digunakan publik.

Fitu baru ini dimunculkan untuk meminimalisir perundungan daring yang kian marak terjadi melalui komentar. Terkadang, sebuah cuitan dapat memiliki banyak reaksi dari pengguna lain.

Pengguna Twitter biasa mengenal aktivitas itu dengan istilah join bareng (JBJB). Tapi tidak semua balasan bersifat baik, kadang ada saja akun anon yang suka mencari keributan dari sebuah cuitan. Salah satu yang sering jadi objek tubir (red: ribut) adalah balasan di cuitan.

Perundungan, ujaran kebencian, komentar yang melenceng dan sengaja untuk membuat rusuh adalah beberapa hal yang ingin dicegah melalui fitur ini. Sehingga pengguna memiliki control lebih untuk menentukan siapa yang dapat membalas cuitan dan membuat diskusi jadi terarah.

Fitur ini bisa dinikmati di semua platform seperti website Twitter.com, Twitter di Android maupun di iOS.

Ketika pengguna mengaktifkan fitur ini, maka pengguna bisa memilih apakah cuitan itu bisa dibalas oleh semua orang, dibalas oleh orang yang diikuti pengguna, atau boleh dibalas hanya oleh orang yang di-mention dalam cuitan tsbt.

Orang yang menemukan sebuah cuitan dibatasi komentarnya tetap dapat me-retweet, retweet dengan komentar, menekan tombol like, berbagi, atau bahkan menyimpannya di markah. Hanya fitur komentar saja yang tidak bisa digunakan.

Langsung saja, berikut cara menggunakan fitur batasi balasan twitter ini.

1. Bukalah akun Twitter kamu.

2. Buatlah cuitan seperti biasa, kemudian di bagian bawahnya ada pilihan untuk memilih siapa yang dapat membalas pesan kamu. Tap menu tsbt.

3. Setelah itu akan muncul beberapa opsi terkait, kamu bisa memilih siapa yang akan dibolehkan membalas cuitan tsbt. Disini penulis memilih opsi terakhir “Hanya orang yang anda sebutkan”.

4. Berikut hasilnya, disini penulis me-mention seseorang dalam cuitan tsbt, dan hanya orang tsbt saja yang bisa membalas cuitan ini.

5. Selesai.

Dengan menggunakan fitur ini, pengguna merasa lebih aman dalam mencuit sesuatu dan membuat percakapan di linimasa jadi lebih teratur.

Fitur ini bertujuan untuk membuat pengguna merasa aman dan dilindungi dari spam juga pesan kekerasan. Berdasarkan insight dari Twitter, fitur ini bisa mencegah pengguna lain yang ingin memberi komentar yang tidak relevan.

Fitur ini juga digunakan untuk sebuah pembahasan dan diskusi tertentu yang memiliki banyak pro kontra, sehingga dengan menggunakan fitur siapa yang dapat membalas ini bisa menyaring orang yang memiliki niat buruk. Misalnya diskusi terkait Covid-19, Black Lives Matter, ataupun preferensi politik seseorang.

Namun sayangnya fitur ini juga memiliki sisi lain, misalnya semakin membuat pengguna berada di dalam “gelembungnya sendiri” atau istilahnya “filter bubbles”. Pengguna cenderung mendapatkan balasan yang sesuai dengan preferensinya sehingga orang yang memiliki pandangan berbeda tidak bisa memberikan sudut pandang lain.


Tujuan dari fitur ini sebenarnya bagus, untuk mencegah perundungan yang marak terjadi di media sosial. Namun, seperti yang kita tahu, terkadang politisi atau pejabat public bisa menggunakannya untuk kepentingannya sendiri. Seperti mengunggah sesuatu dan hanya pengikut yang sepaham saja yang bisa membalasnya.

Tapi ibarat pisau yang bisa digunakan untuk apa saja baik untuk keperluan sehari-hari ataupun untuk melukai, fitur menentukan siapa yang bisa membalas ini juga begitu. Di tangan yang baik, fitur ini akan digunakan dengan baik, namun sebaliknya juga berlaku.

Jadi, tetap gunakan dalam hal yang positif ya guys.

Tinggalkan Balasan