Ini 5 Alasan Kenapa Kita Harus Bijak Menggunakan Media Sosial

Terbit:

Diperbarui:

Penggunaan internet di Indonesia cenderung tinggi. Terlihat dari beberapa survey yang menyatakan lebih dari 50 persen penduduk Indonesia menggunakan Internet.

Apalagi ditengah pandemi, aktivitas menjadi lebih terbatas. Artinya saat ini mobilitas menjadi berkurang dan kecenderungan untuk berada di rumah menjadi meningkat. Hal itu pasti akan berdampak pada peningkatan penggunaan sosial media. Saat interaksi secara langsung terbatas, sosial media menjadi solusinya.

Tapi sayang, tak semua pengguna sosial media paham dan mengerti bagaimana menggunakan media sosial yang baik. Bijak dalam ber-media sosial sangat penting, untuk itu disini aku akan berbagi bagaimana cara menggunakan media sosial dengan bijak. Mari kita simak.

1. Tingkatkan pengetahuan terkait keamanan akun media sosialmu

Akun media sosial adalah ibarat sebuah ‘pintu gerbang’ menuju gudang privasi pribadimu. Karena itulah akun media sosial wajib dilindungi. Caranya?

Banyak sekali cara untuk memproteksi atau melindungi akun media sosial. Mulai dari menggunakan password yang kuat dan tidak mudah ditebak, menggunakan email yang terproteksi dengan baik, tidak sembarang login di perangkat yang tidak terpercaya, mengaktifkan fitur terkait keamanan yang tersedia di sosmed tsbt, dll.

Ada banyak sekali, namun disini aku akan sorot beberapa yang menurutku krusial.

Yang pertama adalah pastikan semua akses login kamu seperti password, sudah dibuat dengan rumit dan tak mudah ditebak.

Nordpass mengumpulkan data dari akun-akun yang datanya sudah dibobol dan tersebar di internet, dari data tsbt mereka mendapatkan banyak password yang bisa dibilang sangat mudah untuk ditebak. Kamu bisa cek laman nordpass.com/most-common-passwords-list/ untuk lihat contoh-contoh password tsbt. Beberapa tipe password digunakan oleh jutaan akun dan bisa ditebak hanya dalam beberapa detik.

Jika kamu tipe yang sulit mengingat password, kamu bisa gunakan aplikasi password manager yang dapat menyimpan password. Ada banyak, terutama yang open source dan gratis. Untuk yang open source misalnya, yang paling populer adalah Keepass, ada banyak alternatif lain, kamu bisa baca-baca di internet lebih lanjut terkait hal ini.

Kalau tidak ingin menggunakan aplikasi password manager, dan tidak ingin menggunakan password yang rumit dan sulit diingat, kamu bisa lapisi akun sosmed kamu dengan fitur autentikasi dua faktor atau fitur verifikasi dua langkah.

Dengan autentikasi dua faktor, setelah memasukkan password login, pengguna akan diminta memasukkan kode tambahan yang didapat dari SMS ataupun aplikasi autentikator yang digunakan. Sehingga kalaupun ada orang yang tau password kamu, mereka tetap tidak bisa login karena mereka tidak punya akses ke kode verifikasi dua langkah yang kamu terima.

Bisa dibilang saat ini semua sosial media, bahkan penyedia layanan emailpun punya fitur ini. Diblog ini misalnya sudah dibahas terkait fitur autentikasi dua faktor ini cukup detail. Beberapa diantaranya misalnya:

Jadi kalau kamu orang yang ceroboh, suka login di perangkat teman, tidak suka mengganti password rutin, tidak suka password rumit, fitur verifikasi dua langkah bisa dibilang hal sangat wajib untuk kamu gunakan.

Dengan fitur verifikasi dua langkah, kamu juga tidak perlu rutin mengganti password kamu, walaupun hal ini tetap disarankan jika kamu benar-benar ceroboh.

Jangan sepelekan keamanan akun media sosial kamu, username dan password adalah key atau kunci untuk mengakses privasi pribadi kamu di dunia maya (jika kamu tidak pakai fitur verifikasi dua langkah). Kalau lengah, kemungkinan akun kamu akan diretas dan dimanfaatkan pihak tertentu untuk melakukan perbuatan yang tak diinginkan akan semakin besar terjadi.

Kasusnya sudah ada lho, bahkan banyak. Salah satunya yang sempat masuk berita misalnya kasus mahasiswi yang akun media sosialnya (Facebook) diretas, diduga diretas oleh sesama mahasiswa juga. Pelaku peretasan memasang foto-foto dan status vulgar di akun Facebook mahasiswi berinisial IM tersebut.

Tak sampai disitu saja, pelaku peretasan juga mengajak ngobrol teman-teman IM melalui ”Inbox” Facebook dan mengajak kencan dengan imbalan uang tertentu.

Kalau belum tahu berita ini, silahkan baca langsung dari sumber beritanya di www.antaranews.com/berita/276991/mahasiswi-unsoed-jadi-korban-pembajakan-akun-facebook

Diblog ini misalnya, ada ratusan komentar minta bantuan terkait masalah akun diretas ini, kamu bisa cek laman bukugue.com/kembalikan-akun-fb-yang-di-hack/ dan ini bukugue.com/cara-hapus-permanent-akun-fb-yang-di-hack/. Banyak yang berhasil mengembalikan akunnya, namun lebih banyak lagi yang gagal.

Nah, dengan adanya banyak kasus tersebut, seharusnya ini menjadi pelajaran buat para pengguna media sosial agar lebih peduli dengan keamanan info login ke akun media sosial, supaya tidak mudah diretas dan dibajak oleh orang yang tak bertanggungjawab.

2. Jangan bagikan data pribadi ke media sosial

Ada saja kelakuan orang tak beradab di jagat maya. Maka sebagai pengguna perlu bijak menggunakan media sosial. Peringatan bagi para pengguna media sosial seperti Facebook, Instagram, Twitter, Tiktok, Line dan aplikasi lainnya dan sering mengunggah status disana.

Jangan pernah mengunggah data pribadi apapun, pokoknya jangan. Misalnya nih, foto KTP, foto KK, foto paspor, CV lengkap, ataupun dokumen-dokumen dan kartu-kartu lainnya yang sekiranya ada data pribadi, barcode, atau kode lain yang merujuk ke data pribadimu dan bisa diakses orang lain.

Lagipula, untuk apa sih kamu membagikan hal-hal seperti itu di media sosial? Jangan bilang untuk ajang pamer atau alasan lain atas nama kepuasan pribadi.

Mengunggah sesuatu yang berisi data pribadi akan menjadi malapetaka untukmu sendiri.

Ada sebuah kejadian, ini di daerah yang tidak jauh dari tempatku. Jadi dia mengunggah KK ke sebuah grup yang bermaksud untuk menanyakan sesuatu. Tapi unggahan KK tersebut tidak semuanya disensor, sehingga masih terlihat nomor NIK dan beberapa info lain salah seorang anggota keluarganya.

Saat salah satu anggota keluarganya tersebut ingin mendaftarkan atau meregistrasi kartu perdana menggunakan NIK tersebut, ternyata tidak bisa karena NIK nya sudah digunakan orang lain sebanyak 3 kartu. Sehingga NIK tersebut tidak dapat digunakan lagi untuk registrasi kartu SIM.

Di daerah lain, di Samarinda, juga ada kasus dimana pelaku penjual SIM Card mendaftarkan atau meregistrasikan kartu SIM nya menggunakan NIK orang lain. Dan itu ribuan kartu! Silahkan baca beritanya di merdeka.com kalau kamu belum tau kasusnya.

Ada lagi kasus lain, yaitu penjualan foto selfie dengan memegang KTP. Salah satu pengguna Facebook dengan tidak ada rasa takutnya mengunggah status dimana ia menawarkan foto selfie KTP kepada pengguna lainnya. Ini sumber beritanya ada di viva.co.id

Nah, foto-foto selfie KTP itu didapat dari mana? Kemudian pelaku penjual SIM Card mendapatkan nomor-nomor NIK dari mana?

Sangat-sangat berbahaya bukan? Maka mulai dari sekarang lebih berhati-hati menggunakan media sosial untuk meminimalisir hal tersebut. Sekali lagi, jangan mengunggah data-data pribadimu di media sosial.

3. Filter orang-orang yang kamu ikuti di media sosial

Oke, ini nih hal simpel yang dianggap sepele. Terutama di Facebook dan Instagram yang menurutku paling banyak terjadi. Ketika ada orang lain yang meminta pertemanan atau meminta follback, langsung kamu setujui atau kamu follback tanpa melihat dulu siapa dia.

Hal ini menjadi salah satu perhatian, karena di zaman sekarang penipuan berkedok akun tertentu banyak menjaring korban. Mulai dari akun pribadi sampai akun jual beli, banyak yang ternyata hanya akun palsu yang bertujuan melakukan penipuan.

Aku membaca salah satu berita di pikiran-rakyat.com. Dimana salah seorang pria tertipu akun palsu wanita cantik sampai-sampai ia kehilangan uang lebih dari 50 juta rupiah.

Akun palsu tersebut menyamar sebagai akun seorang wanita cantik yang meminta sejumlah uang dan mengaku uang tersebut akan digunakan untuk berobat. Ia bahkan berjanji setelah sembuh, ia siap dinikahi oleh pria tersebut.

Pernah juga aku mendengar berita bahwa seorang anak remaja memiliki kenalan di Facebook dan mereka janjian untuk bertemu disuatu tempat. Akhirnya remaja tersebut dirampok, termasuk motor yang remaja tersebut gunakan. Sungguh miris bukan?

Kalau menelisik lebih lanjut, masih banyak kasus lain yang masalah utamanya adalah para pengguna yang kurang mem-filter orang-orang yang mereka ikuti ataupun mereka terima jadi teman di media sosial.

4. Pastikan kebenaran informasi sebelum dibagikan di media sosial

Sudah bukan hal baru lagi, betapa masif-nya informasi tersebar di dunia maya saat ini. Mulai dari berita nyata yang riil memang terjadi, sampai berita hoaks yang biasanya sengaja disebar oleh oknum untuk menciptakan suasana tertentu.

Maka dari itu, sebelum memposting ulang informasi dari orang lain, atau mengunggah status tertentu untuk pengguna lain, pastikan dahulu kebenaran informasi tersebut.

Jangan sampai kamu membaca atau mendapatkan sebuah informasi kemudian ditelan mentah-mentah. Banyak media yang menyajikan judul proaktif atau bahkan cenderung provokasi, padahal setelah isinya dibaca, sangat jauh berbeda dan bahkan terkadang judul tidak mewakili isi.

Maka sekali lagi jangan sembarangan, Jangan sampai informasi tersebut nantinya langsung dipercayai oleh orang yang membacanya atau bahkan sampai membuat kegaduhan. Padahal semua itu adalah hoaks.

Jangan lupa, saat ini UU ITE sudah ada dan berlaku. Jangan sampai akibat ketikan jarimu, kamu terjerat kasus yang melanggar UU ITE.

Kalaupun tidak terjerat UU ITE, jika kamu diketahui sebagai sumber penyebar hoaks, mungkin sanksi sosial akan berlaku. Jadi sebaiknya cari aman saja, jadilah mengguna sosial media yang bijak. Jangan seperti seorang pria di Kendari ini.

Ia menyebarkan hoaks terkait vaksin Covid-19. Padahal narasi yang dia sebarkan hanyalah sebuah rekayasa yang sama sekali tidak ada kebenarannya. Coba cek beritanya di cnnindonesia.com. Pria tersebut menyebarkan hoaks mengenai vaksin Covid-19 melalui pesan WhatsApp. Sehingga publik menjadi heboh dan gaduh. Akhirnya pria tersebut ditangkap polisi.

5. Gunakan etika dalam berinteraksi dengan sesama pengguna sosial media

Jangan salah, di dunia maya juga membutuhkan yang namanya etika dalam berinteraksi antar sesama pengguna.

Ketika ingin berkomentar atau berpendapat terhadap sesuatu di media sosial, lebih baik dipertimbangkan dahulu sebelum benar-benar mengirimnya. Jangan sampai komentar tersebut memicu keributan karena pengguna lain merasa tersinggung.

Ada banyak kasus yang bisa dijadikan pelajaran. Di daerahku juga pernah terjadi semacam ini, berawal dari bercanda melalui komentar di media sosial antar teman. Tapi lama-kelamaan berujung ribut dan akhirnya mereka memutuskan untuk berani ribut di dunia nyata. Saat mereka bertemu akhirnya saling cekcok menggunakan senjata tajam.

Ini tidak beda jauh dengan kasus yang ada di Jakarta Timur beberapa waktu silam. Semua pada mulanya adalah ribut di media sosial. Akhirnya mereka bertemu secara langsung dan cekcok di TKP menyebabkan 1 orang meninggal dan 2 orang luka-luka. Coba baca lebih lanjut beritanya di detik.com.

Tak jarang juga, akibat komentar-komentar tak beretika, menyinggung SARA, dapat memecah persatuan di masyarakat.

Maka sebaiknya berkomentarlah dengan baik dan tidak menyinggung siapapun. Bijaklah menggunakan sosial media. Hidup damai dan berdampingan bukankah suatu hal yang menyenangkan?


Itulah cara-cara bijak menggunakan media sosial. Jangan sampai media sosial membuat mu ‘tersesat’ dan merugikan diri sendiri, juga orang lain.

Media sosial adalah sebuah wadah yang tak terbatas dimana semua orang dari berbagai penjuru dunia dapat melakukan apapun, mulai dari berkomunikasi dan interaksi, sampai pada perbuatan yang melanggar hukum.

So, sekali lagi, harus berhati-hati dan bijak menggunakan media sosial.

Kategori:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *